Sorotan: Tarling tidak lahir dari panggung megah, melainkan dari petikan gitar rusak Meneer Antonio, kehangatan warung pojok, serta kepekaan rasa Soegra yang menjadikan bunyi sebagai jalan hidup dan identitas budaya Indramayu.

📷 Sugra sedang petik gitar. (Fb/@ramdhan.pande)
Ranggonseni.com, - Tahun 1930-an, di Kepandean, Indramayu, sebuah peristiwa kecil terjadi. Seorang Belanda, Meneer Antonio namanya, datang membawa gitar rusak ke rumah Pak Talam, ayah Soegra.

Gitar itu diperbaiki. Tapi tak pernah diambil kembali. Dari situlah Soegra mulai memetiknya. Namun ia tidak sekadar memainkan gitar, ia mengubah cara gitar berbicara.

Ia memadukan petikan gitar dengan laras pelog dan prawa, lalu menambahkan suling sebagai napasnya. Dari pertemuan bunyi itu lahirlah tarling.

Ia juga memperkaya dengan kiser, tembang bujangga pesisir seperti Cerbon Pegot, Waledan, Dermayon, hingga Renggong. Musiknya bukan sekadar hiburan, tapi cermin kehidupan.

Di sebuah warung pojok, di bawah lampu petromaks, Soegra mengamati dunia kecilnya, para kuli, tukang becak, pemuda yang tertawa menahan getir. Dan seorang pelayan warung yang cantik, yang senyumnya cukup untuk menghangatkan malam.

Dari ruang sederhana itu lahir rasa. Lahirlah “Warung Pojok” potret tentang lelah, harapan dan kehidupan rakyat kecil. Seperti apa yang Ucha M. Sarna pernah ceritakan ketika menggagas "Soegra Music Festival".

Waktu bergerak ke masa revolusi. Masa bersiap. Di tengah kerasnya hidup sebagai gerilyawan, Soegra bertemu dengan seorang pemuda, Djajana.

Di sela perjuangan, bukan hanya strategi yang dibicarakan tapi juga bunyi-bunyian. Djajana kemudian berguru padanya. Ia tidak hanya belajar teknik, tapi menyerap rasa bagaimana musik lahir dari kehidupan.

Kelak, setelah perang usai, Djajana memilih jalan seni dan menjadi salah satu pilar penting dalam perkembangan tarling. Di titik ini, terlihat jelas, Soegra bukan hanya perintis, tapi mata air bagi generasi setelahnya.

Kesaksian tentang perjalanan ini pernah diungkapkan oleh Sunarto Marta Atmaja dalam wawancara dengan Tempo (Heru Triyono, Juli 2012) dan selaras dengan catatan Supali Kasim dalam buku "Sugra perintis seni tarling dan maestro-maestro seni budaya lainnya".

Sugra membangun musik dari keterbatasan, kotak sabun, kendi, baskom. Ia membuktikan bahwa kreativitas tidak lahir dari kelengkapan, tapi dari kepekaan membaca hidup.

Dari gitar rusak, warung pojok, dan pertemuan di masa perang, ia melahirkan sesuatu yang kini menjadi identitas budaya.

Waktu berjalan. Tarling berubah, berkembang, bahkan menjauh dari bentuk awalnya. Nama Soegra perlahan tenggelam. Tapi jejaknya tetap hidup di setiap petikan tarling hari ini. Namanya diabadikan dalam gedung kesenian, landmark dan festival. Soegra, The Father of Tarling.