Sorotan: Artikel ini mendokumentasikan rekam jejak Djajana, salah satu tokoh kunci perintis Tarling di Indramayu, berdasarkan kesaksian sejarah komandan gerilya Kapten Sutamin pada medio Mei 1971.

Ranggonseni.com, - Sekaul kanda, tahun 1945. Di tengah riuh revolusi, ada pemuda selain menggenggam bedil dan pistol, juga nenteng-nenteng gitar. Namanya Djajana. Demikian cerita Kapten Sutamin, komandan Djajana kepada wartawan Tempo pada medio Mei 1971.

Ia anak seorang camat dari Karangampel, Indramayu. Seorang gerilyawan muda yang seharusnya melanjutkan jalan perang tapi justru dipanggil oleh bunyi yang lebih sunyi: musik.

Semua bermula ketika ia bertemu Soegra, seorang ahli gamelan dari Kepandean. Sejak itu, Djajana tak sekadar mendengar musik, ia mulai merasakan dan hidup di dalamnya.

Siang dan malam, gitar dan suling menjadi temannya. Ia menembangkan kiser-kiser klasik Dermayon, kiser waledan, saedah, hingga malela.

Petikan gitarnya bukan sembarang petikan. Para ahli gamelan waktu itu menyebut, liuk nadanya sudah menyerupai rebab Sunda.

Ia mengawinkan dua dunia: diatonik dari gitar Barat, dan pentatonik dari suling Timur. Dari pertemuan itu lahir rasa baru. Tarling, itar lan suling. Yen wis melatar gage eling.

Setelah revolusi usai, Djajana mengambil keputusan yang tidak mudah, ia menggantung senjata. Memilih menjadi seniman.

Pilihan yang tidak menjanjikan kemewahan. Bahkan sebaliknya, ia jatuh dalam kemiskinan. Di mata sebagian orang, ia hanya jadi bahan gunjingan:

“anak camat kok hidupnya melarat…”

Pada masa itu, banyak orang kecil terseret arus zaman. Sebagian masuk ke dalam gerakan seperti Lekra, yang memahami satu hal penting, seni bisa menggerakkan rakyat. Sebuah lembaga kebudayaan rakyat underbouw PKI.

Dan Djajana, dengan musiknya yang menyentuh, menjadi sosok yang dilirik. Lagu-lagu tarling saat itu bukan sekadar hiburan. Isinya tentang janda, kemelaratan dan luka kehidupan.

Penonton tidak hanya mendengar, mereka ikut merasakan. Dari sinilah tarling berkembang, bukan hanya sebagai musik, tapi sebagai panggung rasa.

Para seniman kemudian memadukannya dengan teater. Musik dan cerita menyatu. Lahirlah drama musikal tarling.

Djajana mungkin tidak kaya secara materi. Tapi dari tangannya, lahir warisan budaya yang terus hidup di Indramayu hingga hari ini.

Kadang, yang menciptakan sejarah, bukan mereka yang paling kuat memegang senjata. Tapi mereka yang berani memilih jalan sunyi dan setia hingga menjadi warisan budaya.

Rubrik Maestro

Kolom baru untuk arsip seni budaya. Menyajikan rekam jejak maestro, tokoh dan seniman secara otentik. Diasuh oleh Meneer Pangky. Founder Ranggonseni, narablog/blogger budaya dari Indramayu.